[ English ] or [ Bahasa ]

Perayaan 600 Tahun Ekspedisi
Zheng He yang pertama ke Samudera Barat di Semarang

Oleh: Ng Yong Seng Harsono

Pengantar

Semarang merupakan salah satu tempat di pulau Jawa yang dikunjungi oleh Laksamana Zheng He dalam tujuh kali pelayarannya ke Samudera Barat. Tempat-tempat lain di Indonesia yang pernah disinggahinya antara lain Cirebon, Palembang dan Aceh. Semarang terletak di pantai utara pulau Jawa dan pada masa sekarang merupakan ibukota propinsi Jawa Tengah, Indonesia (lihat peta di bawah ini).

Gambar 1. Peta Indonesia yang menunjukkan lokasi Semarang

Ketika Laksamana Zheng He tiba di Jawa, Semarang hanya merupakan sebuah kampung nelayan di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Majapahit yang sedang mengalami kemerosotan. Pada abad-abad berikutnya, Semarang berubah menjadi salah satu kota yang modern di Indonesia. Semarang berpenduduk 1.4 juta jiwa (2003) dan di kota ini terdapat warga keturunan Tionghoa dalam jumlah yang cukup signifikan. Laksamana Zheng He dipuja oleh penduduk setempat sebagai Sam Po Kong dan untuk memperingati ekspedisinya yang pertama, maka diadakan perayaan tahunan pada setiap tanggal 29 atau 30 bulan keenam menurut penanggalan Imlek Cina.

 

Kelenteng (Kuil) Sam Pong Kong di Gedong Batu

Di Semarang, terdapat sebuah kuil Sam Po Kong yang dikenal dengan nama Kuil Gedong Batu. Menurut salah satu versi cerita, dalam salah satu ekspedisi Laksamana Zheng He, salah seorang orang kepercayaannya, Wang Jing Hong, tiba-tiba mengalami sakit parah. Sehingga armada berhenti di Semarang dan mereka menemukan sebuah gua untuk dijadikan sebagai tempat peristirahatan sementara. Kemudian, orang-orang membangun sebuah kuil di tempat itu untuk memuja Zheng He dan tempat tersebut dikenal dengan nama Gedong Batu atau Kedong Batu, yang bererti “tumpukan batu-batu alam yang digunakan untuk membendung aliran sungai”.

    

Gambar 2. Kuil Sam Po Kong, Gedong Batu dilihat dari dua arah.

Sumber: http://www.kelenteng.com

Di dalam kuil, dijumpai sebuah makam yang dikeramatkan sebagai makam Kiyai Juru Mudi Dampo Awang. Banyak yang mempercayai bahawa itu merupakan makam Wang Jing Hong. Menurut salah satu sumber, setelah beliau sembuh dari penyakit, Wang Jing Hong kemudian menetap dalam jangka waktu yang panjang di Semarang dan beliau berperanan besar dalam membangun Semarang. Sehingga, setelah kematiaannya, beliau dikuburkan di dalam kompleks kuil dan makamnya dikeramatkan.

    

    

Gambar 3. Beberapa relief di dalam kuil. Ikutarah jarum jam dari kiri atas: Raja Jawa membayar ganti rugi sebanyak 10.000 tail emas sebagai denda atas insiden yang menyebabkan 170 pasukan Zheng He tewas terbunuh; Bajak laut Chen Juyi tertangkap di Palembang; Raja Holomosi memberikan seekor girafa sebagai hadiah kepada Kaisar Ming; Puteri Hang Lipo sedang di hantar oleh armada Zheng He ke Melaka.

Sumber. http://www.kompas.com

 

Perayaan Zheng He l

Perayaan tahunan Zheng He merupakan salah satu perayaan utama di kota Semarang. Perayaan dimulai dengan diadakan upacara agama di kuil Tay Kak Sie, Gang Lombok yang dikenal sebagai kawasan Pecinan di Semarang. Upacara itu kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan patung Sam Po Kong yang dipuja di kuil Tay Kak Sie ke Gedong Batu. Patung tersebut kemudian diletakkan berdampingan dengan patung Sam Po Kong yang asli di Gedong Batu.

Tradisi yang unik ini bermula sejak pertengahan kedua abad ke-19. Pada masa itu, kawasan Simongan di mana kuil Gedong Batu berada, dikuasai oleh seorang tuan tanah Yahudi yang bernama Johannes. Orang-orang yang hendak berkunjung ke kuil Sam Po Kong diharuskan membayar semacam wang masuk yang harganya mencekik leher. Karena kebanyakan peziarah tidak mampu membayarnya, kegiatan pemujaan kemudian dipindahkan ke kuil Tay Kak Sie. Sebuah replika patung Sam Po Kong dibuat dan diletakkan di dalam kuil tersebut. Pada setiap 29 atau 30 bulan keenam menurut penanggalan Imlek Cina, patung duplikat tersebut diarak dari Tay Kak Sie ke Gedong Batu yang dimaksudkan agar patung replika tersebut mendapat berkah daripada patung asli yang berada di dalam kuil Gedong Batu.

Kawasan Simongan kemudian dibeli oleh Oei Tjie Sien pada tahun 1879 atau tahun kelima Guang Xu. Oei Tjie Sien merupakan ayah dari Oei Tiong Ham, penderma yang juga dikenal sebagai “Raja Gula” Indonesia. Sejak itu, para peziarah dapat bersembahyang di kuil Gedong Batu tanpa dipungut biaya apapun dan urusan pengurusan kuil diserahkan kepada Yayasan Sam Po Kong setempat. Pawai Sam Po Kong itu dihidupkan kembali pada tahun 1930-an dan terus menjadi daya tarik utama hingga sekarang.

    

    

Gambar. 4. Foto-foto dalam festival. Ikutarah jarum jam, dari kiri atas: (1) Kuda yang secara simbolis digunakan untuk mengantar patung Sam Po Kong sedang ditarik oleh Bhe Kun (penuntun kuda); (2) Pawai meninggalkan Kuil Tay Kak Sie untuk memulai perjalanan; (3) Arak-arakan tiba di Kuil Gedong Batu; (4) Dua patung Sam Po Kong diletakkan berdampingan

Sumber. http://www.600yearschengho.org)

 

Perayaan 600 tahun Zheng He

Pada tahun 2005, perayaan Zheng He menjadi lebih semarak kerana bertepatan dengan perayaan 600 tahun ekspedisi pertama Zheng He. Selain pemujaan dan sembahyang, berbagai kegiatan diadakan seperti seminar tentang Zheng He, Persidanagn Perniagaan Antarabangsa, Pameran Produk Mancanegara, pertunjukan kebudayaan, Festival Lampion, pertunjukan kuda kepang dan bunga api. Pameran produk itu sendiri melibatkan pelibatan berbagai perusahaan dalam negeri dan perusahaan beberapa negara yang pernah dikunjungi oleh armada Zheng He. Majlis itu dirasmikan oleh Dr Mari Elka Pangestu, Menteri Perdangangan Republik Indonesia pada 3 Ogos 2005.

    

Gambar 5. [Foto sebelah kiri] Dr Pangestu (kedua dari kiri) memukul drum yang menandakan pemulaan perayaan. [Foto sebelah kanan] salah satu stan yang terdapat di dalam pameran

    

Gambar. 6. Lampion yang dipertunjukkan dalam festival.

    

Gambar 7. [Foto sebelah kiri] Salah satu pertunjukan dalam festival kebudayaan; dan [Foto sebelah kanan] upacara penyerahan hadiah kepada para pemenang dalam berbagai pertandingan yang dianjurkan.

Sumber: http://www.600yearschengho.org

 

 

Referensi:

Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Pustaka Populer Obor, Jakarta, 2000, hlm. 60

Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, dikutip dari http://www.jawatengah.go.id

Panitia Peringatan 600 tahun Laksamana Cheng Ho, dikutip dari http://www.600yearschengho.org

Bondan Winarno, Jalansutra: She-Jit Kongco Sampo (The Anniversary of Sampo Kong), Kompas Cyber Media, 12 August 2005, dikutip dari http://www.kompas.com/jalansutra/news/0508/12/112311.htm

Photo Gallery: Dinding Relief Cheng Ho (Wall Relief of Zheng He), Kompas Cyber Media, 2 August 2005, dikutip dari http://www.kompas.com/utama/news/0508/02/111351.htm

Kelenteng Sampo Kong, Semarang (Sampo Kong Temple, Semarang), dikutip dari http://www.kelenteng.com/sampokong-semarang

Pada awal zaman dinasti Ming, istilah “Samudera Barat” diertikan sebagai kawasan samudera yang berada di sebelah barat Aceh. Kemudian pada pertengahan zaman dinasti Ming, istilah tersebut ditujukan ke kawasan lautan di sebelah barat Brunei.

<Back To Menu>

International Zheng He Society
The International Zheng He Society
No. 8 Commonwealth Lane Singapore 149555
Tel: (65) 6368-1818 Fax: (65) 6368-1886
Email:
infoexchange@chengho.org
Website:
http://www.chengho.org http://www.chengho.org/museum/index.html